Bandit Negara


banditOrientasi praktek kejahatan ternyata bukan sekadar mengambil  keuntungan dari yang bukan hak atau wewenangnya, melainkan termasuk juga  keingingan untuk menyebarkan praktek tercela tersebut, maka diperlukan kelembagaan (aturan main) yang lebih berat lagi harusnya, bagi pelaku kejahatan yang mampu  meregulasi hasrat jahatnya dalam tubuh negara.

Negara, meski ini bukan satu-satunya, kerap diandaikan sebagai institusi yang memiliki kapabilitas menciptakan dan merawat aturan main tersebut. Sebab, di dalam diri negara secara implisit dipunyai kekuatan berupa otoritas untuk memaksakan setiap kelembagaan yang dibuat. Lembaga di luar negara (non-state institutions) barang kali mempunyai kapasitas untuk mendesain aturan, tetapi daya tekan yang dimilikinya tidak sekuat negara sehingga diragukan kemampuannya untuk memaksakan aturan itu. Misalnya, asosiasi produsen komoditas A mewajibkan setiap anggotanya menjual produknya lewat asosiasi tersebut. Jika terdapat satu atau beberapa anggota yang menyimpang dari regulasi itu, maka hukuman paling berat yang bisa diberikan oleh asosiasi adalah mengeluarkan dari keanggotaan. Tapi, jika regulasi itu yang membuat negara, maka pelaku yang menyimpang tadi dapat dibawa ke penjara melalui mekanisme pengadilan.

Terlepas dari urusan tersebut, deskripsi di atas membuhulkan sebuah asumsi yang jelas bahwa negara sebagai produsen regulasi harus kalis dari kepentingan. Di dalam diri negara harus terhindar dari noda praktek penyimpangan. Perkara ini perlu dibuat seterang mungkin, karena definisi kejahatan di sini sebagian bermula dari praktek  yang dilakukan oleh aktor di luar negara . Sehingga, agar praktek tercela itu tidak muncul, maka negara harus membuat regulasinya. Masalahnya, apakah asumsi negara yang kalis dari kepentingan dan suci dari tindakan jahat itu realistis dalam dunia nyata? Seluruh orang sebetulnya ingin menjawab iya, namun semangat itu nampaknya harus dipendam dalam-dalam karena kenyataan di lapangan jauh dari harapan tersebut. Inilah yang menjadikan soal kejahatan (crime) menjadi sesuatu yang rumit. Dia bukan sekadar fenomena, tetapi melintas menjadi tradisi yang bisa dilakukan oleh masyarakat ataupun negara.

Mancur Olson secara definitif membedakan dua jenis kejahatan (bandit), yakni bandit bergerak (roving bandit) dan menetap (stationary bandit) . Bandit bergerak digambarkan sebagai pencoleng yang menguras harta  disuatu tempat  dan wilayah opersainya berpindah-pindah.. Bandit jenis ini layaknya kawanan koboi yang menyerang suatu tempat untuk menguras seluruh harta dan setelah itu meninggalkan lokasi tersebut.

Sedangkan bandit menetap adalah predator yang melahap segala harta yang ada., namun bandit ini tidak meninggalkan tempat tersebut. Mereka tetap tinggal di lokasi tersebut untuk membiakkan sumber daya ekonomi yang sudah diperoleh, bahkan terkadang memberikan kompensasi ”karikatif” kepada pemilik sumber daya .

Kedua jenis bandit ini sama-sama menimbulkan kerugian  terhadap masyarakat, namun dengan intensitas yang berbeda. Dalam perspektif tertentu, bandit menetap jauh lebih ganas ketimbang bandit bergerak karena penetrasi bandit menetap berlangsung dalam jangka panjang.

Celakanya, kompleksitas pelaku bandit terhadap negara di Indonesia, apadalah pemadatan dari dua jenis bandit tersebut. Dan sialnya lagi, bandit-bandit negara bukanlah segerombolan koboi yang menyerang atau menguras harta negara, bandit negara adalah bagian dari negara juga. Maka bandit di Indonesia tidak saja menjadi bingkai kejahatan tetapi juga merupakan mozaik dari bagian negara yang turut menjadi korban.

Sehingga, bandit menetap (dengan pengertian yang telah dimodifikasi tentunya) merupakan rujukan yang lebih tepat untuk menggambarkan dunia para bandit negara di masa sekarang. Tetapi pola perilaku jahatnya berpindah pada semua lini. Sialnya lagi instrumen ataupun regulasi yang dibuat untuk meredam praktek bandit, disusun oleh bandit juga. Sehingga yang terjadi kebijakan yang ada adalah instrumen untuk menyantuni praktek bandit  dalam jubah  liberalisasi, deregulasi, dan juga privatisasi.

source http://poilitikana.com/

Author: Sumarwoto Hadi

Menabur ilmu, menebar benih kebahagiaan saat ini dan masa depan....

2 thoughts on “Bandit Negara”

  1. hehe makasiy banyak Mas … kios ini masih terus perlu pengembangan dan pembenahan … saran dan masukan penjenengan sangat saya nantikan … tengkyu banyak atas atensinya … Insya’ saya akan main-main ke kiosnya penjenengan ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s