Memburu Gelar di Negeri Manca


Bagi sebagian orang, memburu ilmu di luar negeri bisa jadi sekadar mimpi. Bukan berarti mereka tak mampu. Namun, ada begitu banyak cerita hingga ”mitos” tentang pendidikan di luar negeri. Mulai soal jalur yang rumit hingga dana yang fantastis. Betulkah?


SEKOLAH di luar negeri itu susah. Butuh biaya besar dan modal otak superpintar. Kalau tak cerdas dan dapat beasiswa, orang berkantong pas-pasan hampir mustahil meraih gelar. Jika tak punya kantong bermeter-meter tebalnya, angan-angan menjadi sarjana lulusan negeri orang bisa dipastikan buyar.

Tapi, itu dulu. Kini, kesempatan menuntut gelar di negeri orang makin terbuka lebar. Semakin banyak kesempatan yang diberikan pemerintah berbagai negara untuk menjaring mahasiswa internasional.
Berbagai program tersebut tentu saja membuat makin banyak pelajar Indonesia yang hijrah ke luar negeri. Faktanya, jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke berbagai negara terus meningkat.

Di Jepang, misalnya. Berdasar data Konjen Jepang di Surabaya, pada pertengahan 2008, ada 1.791 pelajar Indonesia yang belajar di Jepang. Sebanyak 690 orang di antaranya adalah penerima beasiswa. Secara global, pada 2008, di antara total 123.829 siswa asing di Jepang, 9.923 orang adalah penerima beasiswa.

”Dari tahun ke tahun, selama lima tahun belakangan ini, jumlah itu terus bertambah secara signifikan,” jelas Dwi Amandasani, staf bantuan hibah Jepang ODA (Official Development Assistance), mengenai jumlah mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di sana. Dia menyatakan, jumlah mahasiswa dari Surabaya dan Jatim pun bertambah.

Dia juga mengungkapkan, kalaupun calon mahasiswa belum sukses memperoleh beasiswa sebelum keberangkatan, mereka sangat mungkin mendapat beasiswa setelah keberangkatan. Maksudnya, berangkat dulu dengan biaya sendiri. Setelah berada di sana, baru mengajukan permohonan mendapat beasiswa.

Asalkan berprestasi dan memang potensial, lembaga-lembaga pemberi beasiswa tak akan segan mengucurkan dana. Satu mahasiswa bisa jadi memperoleh lima jenis beasiswa yang berbeda dalam satu waktu. Itu sangat cukup untuk kebutuhannya selama belajar di Jepang. Artinya, asalkan tetap rajin belajar dan memburu beasiswa, secara finansisal mereka akan tetap aman.

Sama seperti Jepang, Jerman cukup menarik dituju sebagai negeri untuk mendulang ilmu. Negara itu merupakan salah satu negara industri maju yang sangat peduli pada pendidikan. Pemerintahnya bahkan menggratiskan biaya pendidikan, termasuk di universitas atau perguruan tinggi negeri.

Memang, ada beberapa yang harus membayar. Namun, jumlah yang harus dibayar relatif murah. Cara pembayaran dan besarnya uang kuliah bergantung kebijakan masing-masing negara bagian. Bagaimanapun, besarnya uang kuliah di Jerman akan lebih rendah jika dibanding negara Barat lainnya.

Kecenderungan serupa ditunjukkan kondisi pelajar Indonesia di Amerika Serikat. Menurut Brooke W. Smith, country coordinator Education USA di Indonesia, jumlah mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh studi di AS mencapai 1.600 orang.

Berdasar data Konjen Amerika Serikat di Surabaya, jumlah pemohon baru visa belajar untuk setiap tahun juga relatif meningkat. Pada 2006, ada 404 pemohon. Pada 2007, tercatat 281 orang menjadi pemohon baru. Pada 2008, ada 235 permohonan baru, sedangkan sampai Oktober 2009 ada 261 permohonan visa baru yang tercatat. Itu pun hanya untuk mahasiswa yang belajar melalui jalur umum (nonbeasiswa dan bukan pertukaran pelajar).

Jumlah tersebut pada masa mendatang diprediksi makin meningkat. Sebab, pemerintah negara adidaya itu telah merancang sejumlah program untuk menarik minat mahasiswa internasional, termasuk Indonesia.

Jalur untuk meraih segala kemudahan tersebut diberikan melalui berbagai beasiswa. Selain itu, ada banyak universitas yang menawarkan harga istimewa untuk para pelajar internasional.

”Dulu, orang berpikir kalau tidak dapat Fulbright (beasiswa, Red), tidak mungkin studi ke Amerika. Tapi, sekarang tidak. Studi ke Amerika kini makin terjangkau, makin mudah diakses, dan makin terbuka bagi siapa saja,” tegas Smith.

Jika melongok ke negeri tetangga, yakni Australia, kenaikan jumlah mahasiswa Indonesia yang berstudi di negara tersebut juga terjadi. Hal tersebut bisa dilihat dari jumlah student commencement dari tahun ke tahun. Artinya, jumlah pelajar yang mengajukan visa belajar dan akhirnya benar-benar menempuh studi di Australia meningkat.

Jumlah paling tinggi adalah untuk kategori Vocational Education and Training (VET) atau diploma. Terutama terjadi sampai Oktober 2009. ”Untuk VET, peningkatannya lebih dari 23 persen. Untuk pendidikan tinggi (S-1 dan S-2), peningkatannya 10 persen,” jelas Josephine Ratna, manajer Australian Education Centre (AEC).

Meningkatnya jumlah pelajar Indonesia yang berminat studi di Australia, menurut dia, disebabkan berbagai hal. Di antaranya, mereka merasa sudah punya jalur untuk menempuh pendidikan di Australia.

Selain itu, sudah banyak bukti bahwa lulusan pendidikan di Australia bisa berhasil. Kemudian, faktor lain yang menentukan, masyarakat Indonesia sekarang sudah tidak takut mengambil keputusan menempuh studi di luar negeri. Termasuk, memilih satu di antara banyak bidang untuk studi di Australia.

Bidang-bidang itu, menurut Josephine, bukan hanya bidang yang berkaitan dengan pengetahuan atau knowledge, namun juga bidang-bidang yang penting untuk kehidupan. Australia menawarkan banyak range of course. Ada lebih dari 26 ribu course yang bisa diambil.

Namun, untuk memutuskan berstudi di luar negeri, tetap harus berhati-hati. Hal itu berlaku di negara man pun, bukan hanya di Australia. Menurut Josephine, studi di luar negeri bukan jaminan pendidikan seseorang lebih berkualitas.

”Tidak ada yang bisa memastikan bahwa lulusan mana pun pasti lebih bagus. Semua bergantung orangnya. Tapi, yang pasti, rasa nasionalisme orang yang pernah studi di luar negeri pasti lebih tinggi. Selain itu, mereka lebih bagus secara mental karena terbiasa hidup di tengah orang baru dan menyesuaikan diri,” katanya. (rio/rum/dos)

source http://jawapos.com/

Author: Sumarwoto Hadi

Menabur ilmu, menebar benih kebahagiaan saat ini dan masa depan....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s