Mitos-mitos tentang Studi di Jerman


Berkaitan dengan studi di Jerman, banyak orang meyakini mitos-mitos tertentu yang cenderung menyesatkan. Beberapa diantara mitos-mitos tersebut diantaranya:

1) Hidup di Jerman serba enak dan mudah. Hal ini tidak selamanya benar. Memang benar bahwa Jerman adalah negara maju yang hidupnya serba makmur dan teratur. Akan tetapi tidak berarti bahwa mahasiswa hidup enak-enak. Disini mahasiswa justru dituntut untuk bekerja keras dan mandiri. Hal ini bisa sangat berat, khususnya bagi calon mahasiswa yang terbiasa hidup serba enak di Indonesia. Tidak ada lagi supir dan pembantu yang siap mengerjakan apa yang kita minta. Tidak ada lagi mobil serta fasilitas lainnya yang selama di Indonesia barangkali dengan mudah bisa didapatkan. Benar bahwa kuliah di Jerman serba bebas, akan tetapi kebebasan ini juga bisa berakibat fatal bila mahasiswa tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri.

2) Kuliah di Jerman Gratis. Ini juga tidak selamanya benar. Benar bahwa kuliah di Jerman sangat murah. Di Berlin-Brandenburg misalnya, mahasiswa hanya membayar sekitar 150 – 200 Euro (sekitar Rp 1,5 sampai Rp 2 juta) per semester. Ini pun sudah termasuk biaya transportasi (semester ticket) yang bisa dpakai untuk naik bis, kereta, U-Bahn, S-Bahn serta Tram selama satu semester penuh. Kuliah di PTN di Indonesia bisa jadi biayanya jauh lebih mahal. Akan tetapi bagi mereka yang melewati batas waktu yang ditetapkan, maka mahasiswa akan diminta membayar biaya kuliah antara 500 – 1000 Euro.
Selain itu saat ini sedang ada diskusi publik tentang perlu tidaknya menarik uang kuliah dari mahasiswa. Sampai saat ini keputusan belum ada, tetapi nampaknya kecenderungan mahasiswa akan diminta membayar biaya kuliah meskipun tidak terlalu besar.

3) Kuliah bisa sambil Kerja. Benar semua mahasiswa di Jerman (termasuk mahasiswa asing) diijinkan untuk bekerja selama 3 bulan dalam setahun. Dengan bekerja 3 bulan dalam setahun, pengalaman menunjukkan bahwa hasilnya sudah bisa dipakai untuk mencukupi biaya hidup minimal selama setahun.
Akan tetapi bekerja sambil kuliah menyimpan persoalan yang sangat besar. Seringkali mahasiswa terlena karena mendapatkan uang yang cukup besar (apalagi kalau dinilai dalam rupiah!) dan cenderung menomerduakan kuliah. Akibatnya kuliah tertunda-tunda dan tanpa terasa waktu kuliah telah habis. Kalau ini terjadi, maka ancamannya adalah terpaksa pulang tanpa gelar karena ijin tinggal sudah habis dan tidak bisa diperpanjang lagi. Kalau belajar dinomerduakan, bisa jadi mahasiswa gagal ujian 3 kali pada mata kuliah yang sama. Kalau ini terjadi, secara otomatis ia akan dikeluarkan (DO) tanpa bisa pindah kemanapun di seluruh Jerman.

4) Kuliah di Jerman sulit dan makan waktu lama. Pandangan ini juga tidak benar dan cenderung menyesatkan. Pada kenyataannya banyak mahasiswa Indonesia yang berprestasi sangat bagus dan mampu menyelesaikan studinya dalam waktu singkat. Bahkan banyak diantaranya yang langsung mendapatkan kesempatan untuk mengambil program doktor atau langsung bekerja di Jerman. Sebaliknya, banyak pula yang terkatung-katung dan bahkan gagal di dalam studinya. Beberapa alasan utama kegagalan tersebut diantaranya:

• Ketidakcocokan tempat studi. Bisa jadi sang mahasiswa salah dalam memilih UNI atau FH, atau salah memilih jurusan. Ini banyak dialami oleh mereka-mereka yang memilih hanya sekedar ikut-ikutan. Untuk itu, setiap mahasiswa hendaknya memilih jurusan sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

• Terlena karena sibuk bekerja. Banyak mahasiswa yang terlalu banyak bekerja karena berbagai alasan, sehingga kuliahnya terbengkalai. Bekerja tentu saja boleh untuk meringankan beban keluarga di Indonesia. Akan tetapi menomorduakan kuliah tentu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun sejak awal mahasiswa berkeinginan untuk sekolah, sehingga kuliah tetaplah harus menjadi tujuan utama.

• Kesulitan Bahasa. Penguasaan Bahasa Jerman sangat mempengaruhi keberhasilan seorang mahasiswa, khususnya untuk jenjang Diplom. Tanpa menguasai bahasa dengan baik, akan sangat sulit bagi mahasiswa untuk bisa berprestasi maksimal. Ia akan kesulitan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya walaupun ia sebenarnya tahu tentang itu. Ia juga akan sulit mengerjakan tugas-tugas hariannya. Karenanya, penguasaan bahasa harus benar-benar diusahakan.

• Persoalan Pribadi. Persoalan pribadi juga memegang peran sangat penting. Banyak sekali yang terkait dengan hal ini, diantaranya masalah keuangan, masalah keluarga dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Untuk mengatasi masalah pribadi, seyogyanya setiap mahasiswa Indonesia tetap menjalin kontak yang baik dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Dalam banyak kasus, keberadaan teman untuk bertukar pikiran akan sangat meringankan beban yang dihadapi. Akan tetapi tidak bijaksana pula kalau seseorang hanya bergaul dengan orang Indonesia saja, karena dengan demikian kemampuan bahasanya tidak akan pernah berkembang.

5) UNI dan FH, mana yang lebih baik? Sebagian orang menganggap UNI lebih baik dan sebagian lainnya menganggap FH lebih baik. Alumni UNI akan cenderung mengatakan bahwa UNI lebih baik, sedangkan alumni FH akan cenderung mengatakan bahwa FH lebih baik. Hal ini sepenuhnya bisa dimengerti karena mereka dididik disana dan mengetahui lebih banyak tentang institusinya. Akan tetapi pilihan terbaik antara UNI dan FH akan sangat tergantung pada bakat, minat dan kemampuan serta jenis pekerjaan yang diminati oleh individu masing-masing.

Source http://one.indoskripsi.com/

Author: Sumarwoto Hadi

Menabur ilmu, menebar benih kebahagiaan saat ini dan masa depan....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s