Refleksi Maulid Nabi: Dan Muhammad Sang Penggembala!


Secara umum, agama-agama dunia, jika ditilik dari nilai-nilai yang diemban para pembawanya, dapat diklasifikasikan dua kelompok: kelompok pertama, ialah  kelompok yang dipelopori oleh Nabi Ibrahim as dan para nabi setelahnya. Mereka semua adalah para nabi yang lahir dari lapisan bawah masyarakat yang mayoritas adalah  penggembala kambing. Secara ekonomi, sejarah mencatat, kelompok ini tidak tercukupi kebutuhan keseharian mereka, kecuali sebagian kecil darinya. Rata-rata hidup dibawah garis kemewahan, apa adanya, seala kadarnya kalau tidak dibilang fakir dan miskin.

Kelompok kedua, ialah kelompok kelas tinggi secara kehidupan social. Mereka yang mempunyai jiwa-jiwa revolusioner, penggagas aliran pemikiran sekaligus etika, baik dari ras kuning seperti: Cina, Iran, Yunani, atau selainnya yang tidak masuk dalam agama Ibrahimi. Namun, secara keseluruhan tanpa terkecuali mereka muncul dari strata lapisan atas masyarakat, para putra raja, darah biru, rohaniawan, saudagar kaya, berkasta tinggi baik dari jalur ibu,  ayah, ataupun dari kedua-duanya.

Mencermati lapisan masyarakat dari sisi sejarah, memberikan cacatan khusus, bahwa dalam masyarakat primitif, para raja, saudagar dan rohaniawan biasanya membagi-bagi kekuasaan, politik, ekonomi dan kepercayaan antar mereka sendiri, baik dalam situasi damai maupun tegang. Akibatnya rakyatlah yang merasakan limbah busuk kedamaian sekaligus ketegangan. Sekali lagi, lapisan bawah ini sama sekali tidak mendapatkan keuntungan di tengah persatuan ataupun perseteruan mereka.

Saat Al-Quran mengungkap kata al-Ummiyyin dalam ayat: “Dialah yang mengutus diantara orang-orang yang ummiy seorang rasul …” (Q.S. 62/2), kata “ummiy” menunjuk lapisan bawah dan rakyat jelata. Sedangkan kata rasul” yang dimaksud adalah rasul turunan Ibrahimian. Yakni, utusan Tuhan ialah manusia biasa, bukan seorang raja, bukan pula bangsawan. Ia layaknya kebanyakan manusia yang hidup dalam kesusahan, bukan dari kelompok elit borjuis yang hidup dalam kemewahan.

Di tempat  lain, Al-Quran menerangkan: “Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan dengan bahasa kaumnya. Hal itu untuk menerangkan kepada mereka, maka Allah menyesatkan siapa yang Ia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Dialah Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana” (Q.S. 14/4).  Ayat ini tidak dalam rangka menerangkan bahwa nabi-nabi keturunan Ibrahim as, misalnya Musa as. berbicara dengan bahasa Ibrani (Hebrew), dan bahwa Muhammad saw itu berbicara dengan bahasa Arab. Kenyataan memang, bahwa nabi yang diutus kepada bangsa Arab tidak berbicara dengan bahasa Mandarin atau Latin.

‘Bahasa kaum’ yang dimaksudkan, yaitu bahasa rakyat yang di dalamnya seorang nabi dilahirkan. Yakni bahasa yang mengungkapkan kesulitan sekaligus harapan, yakni bahasa [aktifitas] yang mampu mengentaskan segenap kesulitan kaumnya. Dan,‘berbicara dengan bahasa mereka’ yakni menolak retorika basa-basi dari penguasa yang hidup tempo itu ataupun pada hari ini, yang sekedar menyibukkan diri cas-cis-cus dan cipika cipiki bagi-bagi kekuasaan antar rekan sekubu. Dan fenomena inilah yang terjadi di kalangan elit politik negeri ini. Mereka tidak faham bahasa kaumnya. Bahasa kaum, bagi elit negeri ini adalah bahasa koalisi dan kekuatan untuk golongan dan pribadi.

Bicara tentang nabi-nabi keturunan Ibrahimian adalah bicara mayoritas umum kaum proletar, berbicara masyarakat lemah dan terdholimi. Yang kekuatan dan basis mereka dalam menyebarluaskan agama ilahi maupun menghadapi lawan, adalah rakyat, kaum bawah dan proletar. Tampak bagaimana Ibrahim as, bangkit dengan tongkat di tangannya. Atau Musa as, yang memasuki istana kebesaran Firaun dengan tongkat di tangan, dan berhasil menenggelamkan Firaun bersama bala tentaranya di Nil, juga berhasil dalam membenamkan Qarun dan harta kekayaannya ke dalam tanah. Semua berkat dukungan dan sokongan kaum proletar. Dan nampaknya gerakan kaum proletar ini tidak dimengerti elit politik di negeri kita. Bagi elit politik di negeri ini, kaum proletar adalah sapi perahan. Para elit politik negeri ini, sibuk bagi-bagi kekuasaan di antara mereka yang akibatnya, rakyatlah yang merasakan getirnya limbah busuk itu.

Dan Muhammad saw adalah nabi keturunan Ibrahimian terakhir, terlahir sebagai yatim penggembala kambing, namun Muhammad saw adalah Muhammad, laki-laki yang tidak pernah dididik dengan  cengeng, tidak pernah dididik untuk curhat kepada selain Tuhannya. Dalam hidupnya sebagai Nabi, sejarah mencatat, hampir setiap lima puluh hari terjadi peperangan yang jumlahnya mencapai enam puluh lima kali pertempuran dalam waktu tidak lebih dari sepuluh tahun. Dan itulah kekuatan mukjizat Alquran. Sebuah mukjizat yang relevan dengan misi kenabian. Jika Musa as memusnahkan kekuatan sihir dengan tongkat kayunya, lalu menumbangkan Firaun dari tahta kekuasaannya. Dan akhirnya, Muhammad saw, menumbangkan penyair-penyair Arab badui dengan keindahan balaghah dan fashahahnya.

Kalimat Tauhid yang dibawa dari Adam as hingga Muhammad saw, adalah slogan pembebasan. Sebelum slogan pembebasan ini sampai ke telinga para filsuf, intelektual, ustad, guru, orator, terpelajar, dan kaum liberal, Muhammad saw telah melaksanakannya yang dimulai dari pembebasan para hamba sahaya, budak-budak, orang-orang mustadh’afin yang hidup dalam penderitaan, penyiksaan, kelaparan di sudut-sudut kota Mekah. Dari sanalah cemohan para bangsawan kepada Muhammad saw dilantunkan, bahwa pengikut Muhammad tidak lain adalah kaum rendahan. Padahal,  kaum rendahan itulah yang menjadi saksi besar sejarah dalam mengharumkan agama Tuhan dan misi Tuhan sekaligus menumbangkan tirani angkuh.

Muhammad saw, datang dari orang-orang lemah untuk orang-orang lemah. Pada hari inilah Muhammad saw, terlahir bersama nilai-nilai kemanusian. Muhammad saw, sang rasul segenap umat, menjadi harapan besar  bagi hamba-hamba sahaya di saat rasionalitas mengatakan, perbudakan adalah takdir  abadi,  di saat eksploitasi politik, budaya, ideologi serta militerisasi para penguasa mendurjana. Muhammad saw, adalah harapan yang dinanti oleh segenap jelata, Muhammad  saw, adalah perwujudan janji Tuhan bagi kaum lemah, disaat rasionalitas mewahyukan, bahwa Tuhan dan agama adalah musuh para penguasa, disaat dogma merapal, Tuhan mentakdirkan para jelata sebagai budak dungu yang harus melayani nafsu para penguasa.

Tidak jauh berbeda saat kita memulai singgungan dari keyakinan para penguasa, ketika Manie berbicara tentang peta ‘Kegelapan dan Cahaya’, lalu ia menempatkan orang-orang miskin dan lemah itu di gerbong “Kegelapan”, sementara penguasa dzalim yang menang didudukkan di kelas “Cahaya”. Saat Aristo dan Plato menyindir penguasa, Tuhan membagi umat menjadi budak dan tuan. Tugas tuan membangun peradaban yang diwujudkan dalam bentuk seni, musik dan sastra, sedang budak untuk mengabdikan dirinya dengan melakukan tugas-tugas yang hina.

Tapi apa yang dikata Muhammad bin Abdullah tentang manusia?, ia mendeklarasikan bahwa semua manusia itu satu; satu jenis, satu keluarga dan satu makhluk Tuhan yang satu. Dengan prinsip kesamaan inilah Muhammad saw, membangun masyarakat baru yang berlandaskan pada ideologi pembebasan [tauhid] dan konsep pembangunan ekonomi, sosial, politik yang kokoh.

Bukan hal aneh saat masyarakat Madinah mengembalikan Bilal –seorang budak hitam- pada posisi dan kedudukannya sebagai manusia yang mulia. Juga Salim, budak Hudzaifah, tidaklah membuat kabilah Arab dan suku Yahudi bingung tatkala ia menjadi imam sholat mereka di masjid Quba, padahal dia terkenal di kalangan bangsawan Quraisy sebagai budak yang sangat hina. Ketinggian derajat kemanusiaan dan kemuliaan Bilal sungguh diakui oleh para penguasa dan elit Arab, sebagaimana Salim yang paling hina di tengah mereka dikedepankan sebagai imam para pembesar itu, sebagai imam sholat dan sujud di hadapan Tuhan Yang Maha Besar.

Ini semua berkat Muhammad saw, sang pembebas, berkat Muhammad saw yang  mengajarkan umatnya agar saat berjalan di atas bumi penuh ketenangan dan kerendahan hati. “Jika salah seorang di antara kalian sedang mengendarai, maka hendaklah mengajak saudara seagama untuk naik di belakangnya”, begitu titah Nabi.

“Tenangkan dirimu! karena sesungguhnya aku tidak lain adalah anak seorang perempuan yang makan daging cincang”. Menunjukkan dimensi manusianya, saat kaum menyangjung statusnya.

Inilah misi agama yang dibawa oleh Nabi sang penggembala itu. Dan, inilah agama yang dibawa oleh Muhammad saw yang lahir di tengah padang pasir tandus, untuk kemudian berhadapan dengan Qarun-Qarun masa kini, Firaun-Firaun modern, kekuasaan dan kekuatan arogansi dunia, sebelum akhirnya kelak, meluluhlantakkan mereka.

source http://politikana.com/

Author: Sumarwoto Hadi

Menabur ilmu, menebar benih kebahagiaan saat ini dan masa depan....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s