Jangan Pernah Merasa Miskin


Banyak orang ngeri mendengar kata miskin. Membayangkan saja pun tidak ingin. Dan setiap kali kata itu terucap, kesan umum yang terbayang adalah kesengsaraan, papa, compang-camping dan kesempitan hidup. Sebaliknya kata kaya membuat orang sumringah dan bergairah.Terlintas di dalam benak berbagai kesenangan hidup dan kemewahan. Hidup serba cukup dengan berbagai fasilitas dan kemudahan akses. Pendek kata, hidup benar-benar hidup.

Dua keadaan di atas adalah lumrah dan manusiawi. Pada dasarnya manusia memiliki hasrat untuk hidup berkecukupan dan amat takut akan kekurangan apalagi kemiskinan. Tetapi, miskin sama sekali berbeda dengan merasa miskin. Sama halnya berbeda antara kaya dengan merasa kaya.

Ada orang berpenampilan sangat sederhana. Hidup serba bersahaja. Rumahnya benar-benar hanya sebatas fungsi primer; sebagai penghalang terik matahari, dari derasnya hujan dan dari derunya terpaan angin. Tetapi ia nyenyak tidurnya walau di atas kasur yang sudah menipis, lapuk dan dingin. Dan pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok, ia sudah beraktivitas dengan kecipak air wudunya lalu berdiri mengucap syukur.

Pakaiannya sederhana, sebatas fungsi primernya saja; bersih, menutup aurat dan agar terlindung dari kemungkinan mudharat karena telanjang.

Makanannya juga bersahaja; hanya sebatas fungsi primernya dari mengganja lrasa lapar dan sekedar membuat tulang punggungnya tegak. Namun di balik itu, kekayaan batinnya tak terkira. Investasi ruhaninya tak pernah merugi. Tabungan kebajikannya selalu berbunga dan saham akhiratnya tak pernah anjlok. Ia berkawan baik dengan syukur dan qona’aah. Juga tak pernah ketinggalan dengan infaq dan sedekah.

Ada orang bernampilan perlente, necis dan glamour. Hidup seperti mesin waktu penghasil uang. Pergi gelap pulangnya juga gelap.

Rumahnya adalah prestise dan harga diri. Rancang bangun, arsitektur, interior dan perabot adalah ukuran kelasnya. Pagar halamannya, cukuplah untuk membeli lima rumah sederhana orang biasa. Begitu indah rumahnya, begitu empuk dipan dan hangat selimutnya, tetapi matanya sukar dipenjamkan wala sekejap. Terpaksalah ia menenggak pil tidur dan penenang hanya untuk kenikmatan pulas. Betapa mahal harga tidurnya setiap malam. Sampai tak menghiraukan lagi panggilan Shubuh dan mengucek mata di kala matahari telah tinggi.

Belum lagi baju dengan harga yang tidak rasional menurut ukuran orang kere. Tapi banyak pula dari baju-baju yang mahal itu, tidak sesuai fungsinya. Banyak bagian dari bajunya terbelah. Paha dan dadanya terbelah. Pusar dan punggungnya terbelah. Hingga sukarlah dibedakan antara baju dan bahan baju yang belum selesai ditautkan dengan jahitan.

Menunya asing di telinga dan sukar menyebutnya. Disajikan bak taman pengantin. Dihias rupa-rupa. Kadang dimakan tak habis. Hanya sekedar dicicip lalu berganti menu baru yang sama-sama asing dan sukar dilafalkan. Lapar bukanlah dorongan utama untuk makan. Tetapi sebagai bagian dari protokoler highclass; beginilah sesungguhnya makan dengan harga diri yang amat tinggi.

Semboyannya adalah Time is money. No money no honor.

Tetapi apa lacur, kekayaan materi itu tidak sanggup mengatasi kekosongan ruhaninya. Ruhaninya miskin di tengah tumpukkan kekayaan harta bendanya. Begitu miskinnya ia, sampai-sampai tidak mengerti apa itu sedekah, apa itu zakat dan bagaiamana harta itu harus dibelanjakan di jalan Tuhan.

Begitu banyak orang miskin tapi merasa begitu kaya batinnya. Mereka orang-orang bersahaja yang tidak pernah merasa sukar untuk memberi. Seolah mereka memiliki rizki yang tak terbatas dan tak pernah habis dibagikan. Seperti riwayat Abu Ya’la yang sampai kepada kita :

Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknyaharta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya’la).

Ada begitu banyak yang kaya dengan kasat mata, tetapi sebenarnya miskin dan selalu kekurangan. Karena kekurangannya ia enggan memberi. Tangannya tertutup rapat dari sedekah. Hatinya selalu menimbang rugi jika berderma. Seolah belum tiba saat baginya untuk berbagi. Ya, belum saatnya untuk orang lain. Masih untuk diri sendiri. Padahal malaikat selalu bersahut-sahutan di atas langit berdo’a. Katanya :

Tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun. Yangsatu berdoa: “Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan.” Malaikat yang satu lagi berdoa: “Ya Allah, timpakan kerusakan (kemusnahan) bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya).” (Mutafaq’alaih).

Jangan pernah merasa miskin. Sebab merasa miskin adalah jalan yang mengantarkan seseorang kepada kemiskinan yang ditakuti banyak orang.

Harta yang dizakati tidak akan susut (berkurang). (HR. Muslim)

Menjadilah kaya sekaya Abdurraham bin ‘Auf. Lalu ingat-ingat soal kekayaan seperti pesan nabi kepada ‘Amru :

Wahai ‘Amru, alangkah baiknya harta yang sholeh di tangan orang yang sholeh. (HR. Ahmad)

Allahu a’lam.

source http://eramuslim.com/

Author: Sumarwoto Hadi

Menabur ilmu, menebar benih kebahagiaan saat ini dan masa depan....

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s